Suatu hari, si anak—sebut saja namanya Tono—sedang asyik bermain dengan anak-anak di sekitar rumah. Tiba-tiba, seorang anak memaki Tono dengan kata kasar, "Kont**l... lu!"
Tono cuma bisa tertegun heran karena tidak mengerti apa arti kata yang diucapkan anak tadi. Sesampainya di rumah, Tono yang penasaran langsung bertanya pada ibunya, "Bu, Kont**l itu apa sih artinya?"
Sang ibu kaget setengah mati mendengarnya. Karena bingung dan ingin melindungi anaknya, ibunya spontan menjawab, "Oh... itu artinya TONGKAT, Nak."
Keesokan harinya, Tono kembali bermain dengan teman-teman barunya. Tiba-tiba anak lain kembali memaki, "Mem*k... lu!"
Tono semakin dibuat bingung. Makin hari makin banyak kata baru yang belum pernah ia dengar. Di rumah, Tono kembali mengejar ibunya, "Bu... Bu..., kalau Mem*k itu artinya apa?"
Ibunya kembali mengelus dada sambil menahan malu, lalu menjawab cepat, "Itu... itu artinya PIRING, Tono."
Beberapa hari kemudian, Tono sedang duduk santai di depan rumah. Kebetulan ada seorang pak pendeta lewat berjalan menggunakan tongkat. Tepat di depan Tono, tongkat pak pendeta tersebut tersandung dan jatuh ke tanah.
Dengan spontan dan niat membantu, Tono berteriak kencang, "Hati-hati Pak Pendeta, Kont**l-nya jatuh!"
Pak pendeta kaget setengah mati sekaligus emosi mendengarnya. Dengan wajah merah padam beliau marah, "Kurang ajar! Mana ibumu?! Kamu harus diajari sopan santun!"
Dengan polosnya Tono menjawab, "Ibu ada di dalam kok, Pak Pendeta. Ibu saya lagi sibuk cuci Mem*k!"
Mendengar jawaban Tono yang makin tak karuan— padahal ibunya memang cuma lagi cuci piring di belakang— pak pendeta pun seketika pingsan di tempat.
Pesan Moral:
Pentingnya mengajarkan dan mengenalkan hal-hal baru kepada anak sesuai dengan kebenaran yang semestinya. Jangan pernah memberi kiasan atau pengalihan arti yang salah hanya karena merasa risih. Kepolosan anak yang dibekali informasi keliru justru bisa berujung pada salah paham yang jauh lebih besar di kemudian hari!
Pentingnya mengajarkan dan mengenalkan hal-hal baru kepada anak sesuai dengan kebenaran yang semestinya. Jangan pernah memberi kiasan atau pengalihan arti yang salah hanya karena merasa risih. Kepolosan anak yang dibekali informasi keliru justru bisa berujung pada salah paham yang jauh lebih besar di kemudian hari!
