Mukidi Protes Dokter Gara Gara Jempol Kiri

Ayo Ketawa! - Mukidi, seorang karyawan pabrik yang lugu asal Jawa Tengah, mendadak pusing tujuh keliling. Pasalnya, sang istri baru saja melahirkan anak ke-9, padahal umur mereka berdua sudah hampir berkepala lima.

Karena kasihan melihat istrinya kelelahan dan ia sendiri buta soal Program Keluarga Berencana (KB), Mukidi memberanikan diri datang ke klinik perusahaan.

"Pak Dokter, tolong saya... Saya mau ikut KB. Anak saya sudah sembilan, kasihan istri saya, Pak!" keluh Mukidi sambil meringis.

Dokter klinik tersenyum memahami, "Oh, begitu toh, Pak Mukidi. Jadi sampeyan sudah tidak ingin tambah momongan lagi?"

"Nggih, Pak Dokter... Tulung sanget yo..." jawab Mukidi memohon.

Dokter lalu mengeluarkan dua benda dari laci mejanya, "Baik, ini ada dua cara utama, Pak. Yang pertama ini pil KB, nanti ibuk-ne yang rutin minum. Nah, yang kedua ini kondom, khusus Bapak-ne yang pakai. Mau pilih yang mana?"

Mukidi langsung menunjuk bungkus kecil di tangan dokter, "Biar yang itu saja Pak Dokter! Biar saya saja yang pakai, kasihan istri kalau harus menelan pil terus."

"Bagus kalau begitu," kata dokter sambil membuka satu kemasan kondom. Untuk memberi contoh, sang dokter menarik karet itu lalu menyarungkannya tepat di jempol tangan kirinya. "Caranya begini ya, Pak Mukidi. Dipasang pas mau 'bertempur'. Kalau dipakainya begini, dijamin aman! Istri sampeyan tidak bakalan hamil lagi. Paham toh?"

"Nggih, sangat paham Pak Dokter!" sahut Mukidi mantap.

Namun, selang tiga bulan kemudian, Mukidi kembali mendobrak pintu klinik dengan wajah merah padam dan nafas terengah-engah.

"Pak Dokter ini pripun toh?! Istri saya kok malah hamil lagi?!" amuk Mukidi.

Dokter kaget setengah mati, "Hamil lagi?! Ah, tidak mungkin, Pak!"

"Beneran lho, Pak Dokter! Ini lho lihat sendiri perutnya sudah mulai membuncit!" teriak Mukidi sambil menunjuk istrinya yang berdiri menunduk di sampingnya.

Dokter makin heran, "Lho, sebentar... Waktu itu makainya gimana toh, Pak?"

Dengan wajah tanpa dosa dan nada sok yakin, Mukidi menjawab:

"Ya persis sesuai petunjuk Pak Dokter kemarin! Tiap mau 'bertempur', karetnya langsung saya sarungkan rapat-rapat ke JEMPOL KIRI saya! Tapi kok tetap jebol juga?!"

Dokter seketika menepuk jidatnya keras-keras sampai pusing. (***)